Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu
Aku
telah menghabiskan sekitar tiga tahun lamanya sebagai seorang pengajar paruh
waktu. Mendengar, memahami, merenungkan, dan memberikan solusi bagi setiap
murid yang mengalami kesulitan dengan studinya merupakan rutinitasku. Dari
sini, boleh dibilang aku telah berpengalaman menghadapi beragam jenis murid
dengan kekhasan latar belakangnya masing-masing. Ada yang dari keluarga
terpandang, ada juga yang hanya berasal dari panti asuhan.
Bertemu
dan berbicara dengan mereka seperti membawaku kembali melintasi lorong waktu
dan menyaksikan beragam scenario masa kecil yang mungkin saja menimpaku.
Masalah yang mereka hadapi selama masa studi, kebanyakan aku sudah pernah
mengalaminya secara langsung. Nilai ulangan yang rendah, perkelahian,
ketidaksukaan kepada guru tertentu yang menyebalkan, perundungan, hingga
perbedaan pendapat dengan orang tua dan guru terkait pembelajaran. Tak
ketinggalan juga, hal-hal menyenangkan seperti menjadi juara kelas, mengikuti
berbagai perlombaan, mendapat pujian, hingga menjalin persahabatan yang
langgeng sudah pernah ku rasakan. Jadi boleh dibilang, memiliki pengalaman yang
serupa membantuku berkomunikasi dengan mereka dan membuatku menjadi
menyenangkan untuk diajak bicara bagi mereka.
Hidup
menjadi seorang pelajar entah sejak kapan menjadi suatu kelumrahan dalam fase
kehidupan manusia modern. Dulu, menjadi pelajar atau sarjana adalah suatu
kemewahan sekaligus juga dedikasi hidup. Memilih untuk menjadi pembelajar
berarti memilih untuk meninggalkan iming-iming kemewahan material demi mengabdi
pada ilmu pengetahuan dan juga peradaban. Para pemikir besar dari mulai Era
Yunani Kuno hingga Renaissance ku
kira cukup sesuai dengan deskripsi ini. Pembelajar pada tiap masa tersebut
adalah definisi real dari apa yang
mungkin kebanyakan orang anggap sebagai orang bijak.
Waktu
terus beranjak dan pergeseran makna terjadi pada dunia keilmuan. Revolusi
industri tidak hanya berujung pada industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi,
melainkan juga kemunculan kebutuhan atas sumber daya manusia yang terampil dan
sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan formal menjadi sesuatu yang
wajib ditempuh setiap orang agar dapat terserap di pasar tenaga kerja. Pergeseran
ini juga membuat status sebagai akademisi murni tidak lagi dipandang setinggi
masa sebelumnya. Tentu, akademisi tetap dipandang sebagai “orang bijak” yang
memiliki kepakaran pada bidang studi tertentu. Namun gengsinya tidak setinggi
menjadi direktur utama di perusahaan multinasional atau menjadi elit di kancah
perpolitikan. Kendati demikian, aku tidak dalam posisi untuk menyalahkan
kondisi yang ada saat ini karena ku kira pada setiap zaman selalu ada peran
tertentu yang ditinggikan oleh peradaban, entah karena imbalan yang diberikan
kepada pemerannya sangatlah besar atau mungkin karena signifikansinya kepada
masyarakat tidak dapat dipandang remeh.
Yang
menarik untuk digali lebih jauh menurutku ada pada perkembangan sifat kepakaran
atau keahlian di dalam ranah akademis serta implikasinya pada produk luaran yang
dihasilkan oleh institusi pendidikan, dalam hal ini para sarjana. Aku teringat
pada cuplikan drama yang belakangan sedang ku gandrungi yang mengisahkan
tentang sejarah peperangan pada era dinasti kuno di Tiongkok. Di dalam cuplikan
tersebut, seorang raja sedang menyampaikan wasiat kepada salah seorang
penasihatnya yang bunyinya kurang lebih begini:
“Kau sangatlah pandai. Terlalu pandai
sampai-sampai aku tidak tega membunuhmu beberapa kali sebelum ini. Terlalu
pandai sampai-sampai pangeran mahkotaku tidak dapat hidup dan berkarir tanpamu.
Tapi kau harus ingat, kebanyakan orang-orang pandai hanya mampu melindungi
dirinya sendiri dan biasanya tidak berani maju ke depan dan mengambil tanggung
jawab besar. Kau harus berani untuk tampil dan bertanggung jawab terhadap orang
banyak. Dan untuk itu, kau perlu tumbuh menjadi orang bijak yang melampaui
orang pandai pada umumnya.”
Aku
sering memutar cuplikan tersebut hanya untuk mengingatkan diriku sendiri
mengenai perbedaan ini, merenungkan maknanya, dan menarik relevansinya dengan
kehidupan saat ini, terlepas dari elemen fiksi yang melekat padanya. Menjadi
seorang pengajar membuatku sering menjumpai situasi di mana sebagian besar
muridku tidak memiliki pilihan lain selain menjadi “pandai” di mata orang
tuanya. Banyak yang mereka ketahui, namun hal-hal seperti itu menjadi tidak
berarti ketika mereka tidak mampu menjalin semua itu menjadi sesuatu yang
bermakna bagi mereka.
Semua
dikuantifikasikan. Selalu ada beban dari luar untuk menjadi semakin sempurna.
Sayang, persaingan di sekolah hanya mengizinkan satu orang untuk menjadi yang
terbaik. Pengalamanku terlibat dalam persaingan gila dengan teman-teman
seangkatan yang super jenius adalah bukti nyata dari kekonyolan ini yang pada
masanya hampir membuatku gila sendiri.
Ada
yang lebih penting dari sekadar angka dan predikat “pandai”, dan ku kira ini
bukan sesuatu yang sulit untuk kita pahami bersama. Bersama dengan hasrat untuk
menjadi yang terpandai dan paling hebat sekian langkah jauhnya, muncul racun
yang berasal dari jalan yang sama yang perlahan membunuh diri masing-masing dan
masyarakat. Menjadi pandai mudah, sebab yang kau butuhkan adalah otak yang kuat
untuk menghafal banyak hal. Menjadi bijak lebih sulit, sebab otak dan rasa
perlu dikelola dengan penuh kepekaan terhadap apa yang ada di dalam dan di luar
diri. Menjadi pandai menempatkan diri pada sudut pandang “aku”, sementara
menjadi bijak menempatkan diri pada sudut pandang “kita”.

Comments
Post a Comment