Posts

Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu

Image
Manusia tumbuh dan belajar seiring waktu. Manusia lahir dan mati juga seiring waktu. Setiap zaman, peradaban selalu berjumpa dengan tantangan dan permasalahan sesuai masanya. Manusia menghadapi alam, manusia menghadapi sesamanya, serta manusia menghadapi dirinya sendiri, ku kira waktu telah membawa peradaban manusia sampai kepada masa sekarang, ketika kita sebagai manusia berikhtiar untuk menjaga diri tetap baik-baik saja di tengah tiga pertempuran berbeda semacam ini yang kita jalani secara simultan.

Korespondensi dengan Orang Asing Bagian 1: Apa yang dibawa Seorang Penipu?

Image
Hidup adalah kompilasi pertemuan yang mana akhirnya hanya tiap individu yang menentukan. Pertemuan memulai kisah yang entah kapan dapat saja berjejalin dengan kisah dari pertemuan lainnya yang terjadi di waktu lain. Aku hendak memulai tulisan ini dengan sebuah kisah yang dipopulerkan oleh aliran Zen Budhisme mengenai dua orang biksu yang mempraktikkan larangan memiliki keterikatan dengan hal-hal duniawi, termasuk di dalamnya keterikatan kepada lawan jenis.

Dan Ku Temukan Tujuan dari Ketiadaan Tujuan

Image
Ada yang merenta namun bukan badan. Ada yang menghela nafas panjang namun bukan dada. Ada yang terpejam lelah namun bukan mata. Ada yang mengalir di pipi namun bukan air mata. Langit malam memanglah hitam pekat, dan udaranya memanglah dingin menusuk tulang. Fase berikutnya dari perjalanan panjang, namun kepada siapa selanjutnya aku memamerkannya?

"Kurangi Kopi, Perbanyak Teh"

Image
Sakit kepala membuatku terjaga semalaman. Karantina akibat pandemi berakibat pada berantakannya waktu tidurku belakangan. Sering sekali aku terjaga hingga pagi menjelang hanya karena terlalu asyik dengan permainan dan tontotan baruku di handphone . Dan untuk menjaga agar diri ini tetap melek sepanjang malam, ramuan apa lagi yang lebih manjur ketimbang tiga gelas kopi panas? Karena kopi aku bisa tetap melek, dan persis karena kopi pula aku sekarang sakit kepala jika asupan kopi harianku kurang (sepertinya).

Catatan Penutup Kuliah dan Gelas Kopi Kosong

Image
Ini adalah catatan penutup kuliahku. Di sinilah aku, di garis finis yang aku idam-idamkan selama bertahun-tahun lamanya. Tapi di sini jugalah aku, memandang langit kelabu sepanjang mata memandang, merasa kosong dan hampa seorang diri kendati ribuan mata mungkin sesekali memandangiku seorang. Hujan deras mengguyur tempat persinggahanku, namun ku lihat burung-burung sesekali beterbangan, sepertinya sedang berjuang mencari tempat berteduh. Apa daya? Pepohonan kini berganti dengan deretan villa a la pegunungan. Pun demikian halnya dengan hamparan perkebunan teh, pematang sawah, hingga kebun pisang. Semua berganti dengan hasil tangan kita, manusia, yang mencoba untuk menggapai ketinggian yang lebih tinggi dan kejayaan yang lebih jaya.

Kopi Idealitas

Image
Kemacetan jalan selalu menyiksa punggungku. Peluh dari lelah juga membuat kantuk melanda diriku. Semua memaksaku untuk menepi di sebuah toko kopi kecil namun nyaman dengan pendingin ruangan dan es kopi murahnya yang sulit ku tolak. Hanya ada beberapa pengunjung, akan tetapi gelegar pembicaraan mereka setara dengan kebisingan jalan yang baru saja ku hindari. Tak apa, seumur hidup di metropolitan membuatku terbiasa dengan hal-hal semacam ini.

Keluh dan Dilema

Image
Ku angkat cangkir seraya bersenandung lirih Akankah hidup yang hanya sekali ini terasa panjang dan sepi? Ataukah pendek dan riuh bak mimpi indah di malam hari?