Kopi Idealitas


Kemacetan jalan selalu menyiksa punggungku. Peluh dari lelah juga membuat kantuk melanda diriku. Semua memaksaku untuk menepi di sebuah toko kopi kecil namun nyaman dengan pendingin ruangan dan es kopi murahnya yang sulit ku tolak. Hanya ada beberapa pengunjung, akan tetapi gelegar pembicaraan mereka setara dengan kebisingan jalan yang baru saja ku hindari. Tak apa, seumur hidup di metropolitan membuatku terbiasa dengan hal-hal semacam ini.


Kopiku datang, namun dari warnanya yang terlampau terang, sepertinya mereka memberikan terlalu banyak pemanis dan susu. Dan ya, rasanya memang terlalu manis. Kalau begini kantuk hanya akan semakin kuat pengaruhnya pada tubuh dan mataku. Tapi sekali lagi, tak apa. Kehidupan sehari-hari sepertinya terbiasa memberikanku sesuatu yang bertolak belakang dari yang aku harapkan. Duh, pasrah betul diriku. Baru saja siang ini aku disalip dengan biadabnya di putaran jalan oleh ibu-ibu dengan motornya. Pembawaannya cuek, namun lagi-lagi aku tak sampai hati protes apalagi mengerjainya dengan menjepitnya di antara beton pembatas jalan.


Bicara mengenai hidup yang memperlakukan diriku dengan semena-mena, aku mungkin terdengar cengeng sekarang. Mungkin saja menjadi dewasa berarti seperti ini. Mungkin memang ada banyak kesema-menaan yang harus ditoleransi dan ditanggapi dengan lapang dada oleh seorang manusia dewasa. Dulu ketika kecil, aku selalu membalas hal-hal semacam itu dengan sikap bawel bercampur idealisme a la bocah. Siapapun ku lawan, sampai tiba waktunya sebogem gamparan dari kakak kelas di SMP membuatku sadar bahwa tidak bijak selalu melawan mereka yang semena-mena kepadamu. Sejak saat itu aku menjadi agak pendiam, bahkan mungkin penakut, ketika berhadapan dengan kesema-menaan. Ha ha ha, dasar payah!


Pikiranku melayang sejenak ke suatu tempat nun jauh di alam khayalan. Sebuah desa kecil bernama “Mineral Town” terpampang dengan jelas di hadapanku. Rasa-rasanya pemandangan yang ada terlihat lebih nyata dan indah dibanding versi aslinya yang berasal dari game “Harvest Moon” yang sering ku mainkan dulu saat masih kecil. Aku seperti dapat melihat dengan jelas setiap detail kecilnya, mulai dari lahan pertanian dan berikut ilalang yang menghiasinya, “Mother Hill” yang sering ku kunjungi di waktu senggang untuk mencari kayu bakar dan sedikit hasil hutan untuk dijual, suasana bar yang cukup ramai di pusat desa, hingga bangunan gereja tua yang sering ku kunjungi untuk mengakui dosa setiap aku merasa sudah terlalu banyak membuang sampah sembarangan. Permainan yang lucu jika dilogikakan dengan pikiran dewasaku yang terlampau kritis, namun membayangkannya membuatku tenang dan gembira tanpa ku sadari.


Dulu menjadi seorang petani di desa terpencil merupakan cita-cita besarku, percaya atau tidak. Sayangnya seiring dengan bertambahnya usia, aku terus dijejali dengan fakta pahit tentang menjadi seorang petani di negaraku. Maka sebagai langkah untuk menyikapi keadaan tersebut, aku memodifikasi cita-cita tersebut. Aku ingin menjadi orang kaya terlebih dahulu agar kelak ketika aku bertani aku tidak perlu memusingkan apakah pekerjaan ini menghasilkan uang atau tidak, sebab ada sumber uang tersendiri yang mencukupi biaya hidupku dan hobiku ini. Ah namun, ini juga merupakan satu lagi angan-angan yang terlampau ideal dariku, setidaknya menurut mereka yang sudah lebih berpengalaman dan mampu bersikap lebih realistis terhadap hidup (konon katanya).


Benar juga, betapa sering kita memikirkan hal-hal ideal yang hampir mustahil terwujud setidaknya pada zaman di mana kita hidup. Namun begitulah adanya kita. Kita bermimpi mengenai yang ideal agar hidup selalu memiliki keterarahan pada suatu tujuan besar. Dan bicara mengenai keterarahan pada yang ideal ini, proses pikiran membawaku kembali pada pikiranku sebelumnya mengenai sikap penerimaan terhadap kesema-menaan hidup.


Kadang aku, sebagaimana beberapa orang lainnya, diarahkan oleh pikiran ideal mengenai dunia yang seimbang dalam memberi balasan atas segala tindakan. Ada juga pikiran mengenai hikmah di balik setiap hal buruk yang menimpa kami di dalam kesema-menaan. Hal ini membuat kami enggan untuk melawan dan lebih memilih untuk diam. Aku penasaran, ada berapa banyak lagi orang yang seperti ini. Dunia secara ajaib berkembang dan melahirkan manusia-manusia seperti kami yang seakan berpangku tangan dan mengharapkan keajaiban serta idealitas menjadi hakim sekaligus pembalas terhadap apa yang kami anggap sebagai kesema-menaan.


Lantas, bagaimana jika idealisme yang kami pupuk ini adalah omong kosong pada akhirnya dan bahwa dunia betul-betul bekerja secara acak dan penuh kebetulan? Haruskah kemudian kami mulai melawan? Ataukah justru kami punya lebih banyak alasan untuk mendiamkan kesema-menaan tersebut karena pada akhirnya ia adalah buah dari keteracakan dunia yang kami sikapi secara negatif? Ah sial, lulus dari jurusan filsafat tidak menjamin aku terbebas dari kebiasaan berpikir filosofis semacam ini. Penting sekalikah untuk memperdebatkan ini? Lebih baik segera ku habiskan saja kopi ini. Aku masih harus menerobos kemacetan kawasan Pejaten dan sampai di Cinere dalam waktu 30 menit untuk satu lagi pekerjaan yang menjadi sumber penghidupanku.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu

Korespondensi dengan Orang Asing Bagian 1: Apa yang dibawa Seorang Penipu?