Korespondensi dengan Orang Asing Bagian 1: Apa yang dibawa Seorang Penipu?


Hidup adalah kompilasi pertemuan yang mana akhirnya hanya tiap individu yang menentukan. Pertemuan memulai kisah yang entah kapan dapat saja berjejalin dengan kisah dari pertemuan lainnya yang terjadi di waktu lain. Aku hendak memulai tulisan ini dengan sebuah kisah yang dipopulerkan oleh aliran Zen Budhisme mengenai dua orang biksu yang mempraktikkan larangan memiliki keterikatan dengan hal-hal duniawi, termasuk di dalamnya keterikatan kepada lawan jenis.


Di dalam cerita yang cukup popular ini, salah seorang biksu tersebut memprotes temannya yang lain karena beberapa waktu sebelumnya menolong seorang wanita yang hendak menyeberangi sungai dengan cara menggendongnya di punggung. Biksu ini merasa bahwa temannya telah melanggar peraturan dengan cara menjalin hubungan semacam ini. Tahu apa tanggapan biksu satunya terhadap ungkapan protes temannya ini?


“Aku telah menurunkan wanita itu dari punggungku beberapa waktu yang lalu. Mengapa kau masih membawanya di kepalamu hingga saat ini?”


Bagi beberapa orang, hikmah yang dapat ditarik dari cerita ini bersifat cukup literal, yakni tentang esensi dari keterikatan dan keterlepasan a la Zen Budhisme. Akan tetapi bagiku, kita seharusnya tidak berhenti sampai di sana. Kisah ini, kendati pendek, juga menekankan mengenai pilihan yang selalu kita miliki terkait kapan harus mengakhiri sebuah kisah yang berawal dari perjumpaan dan tidak ketinggalan juga pilihan untuk kapan pun membawanya kembali ke kehidupan esok hari.


Bagiku, di antara kedua biksu tersebut, tidak ada yang lebih baik dan lebih bebas pikirannya dari keterikatan kepada wanita yang mereka jumpai. Perjumpaan itu telah terjadi dan bekasnya masih terpatri di dalam pikiran keduanya. Perbedaannya hanyalah kemampuan masing-masing dalam menyikapi ingatan yang sudah keburu ada. Jika biksu yang menolong wanita tersebut dianggap lebih baik seperti pendapat umum, ia seharusnya malah sudah lupa siapa yang mereka sedang bicarakan ini. Yang terjadi, ia hanya meletakkannya begitu saja dan melanjutkan hidup sebagaimana biasanya. Aku ingin membawa pelajaran penting ini ke tataran yang lebih segar dan dekat dengan pengalaman kita hari ini agar ada pelajaran lainnya lagi yang dapat diturunkan menjadi kebijaksanaan baru.


Seperti yang diketahui oleh orang-orang yang terhubung dengan akun media sosialku, belakangan ini aku memiliki hobi baru yang mungkin terdengar janggal, yakni membalas e-mail yang dikategorikan sebagai spam. E-mail semacam ini sebetulnya jarang ku terima karena alamat e-mail milikku ini juga jarang ku berikan secara sembarangan di dunia maya. Jujur, hobi baruku ini bukanlah sesuatu yang terpikirkan olehku begitu saja. Seorang komedian bernama James Veitch telah memulai gerakan “membalas spam” ini beberapa tahun yang lalu sebagai sarana hiburan sekaligus juga “pengabdian kepada masyarakat” (ia percaya dengan meladeni para spammers berhari-hari, ia telah menghindarkan para calon korban di saat bersamaan dari para penipu ini).


Jika bagi Veitch hiburan dan pengabdian masyarakat adalah yang utama, maka bagiku ada hal ketiga yang tidak kalah penting (dan ini menjadi tujuan utamaku), yakni pemahaman mengenai hubungan antarmanusia dan kondisi kehidupan yang beragam. Ini terdengar aneh, namun pengalaman selama sebulan terakhir lebih banyak terkurung di rumah dengan kondisi tidak banyak lawan bicara yang ku punya membuatku penasaran dengan seperti apa kehidupan di belahan bumi yang lain dan bagaimana orang-orang di sana memandang hidup. Sebetulnya sebelum memutuskan untuk membalas spam, sempat terpikir olehku untuk menggunakan aplikasi random chat. Namun pemblokiran dari pemerintah terhadap sejumlah website serta kepribadian orang-orang di aplikasi semacam itu yang terlalu vulgar membuatku pada akhirnya lebih memilih spam sebagai titik berangkat.


Dari setidaknya dua e-mail spam yang ku balas, aku mendapat kesempatan untuk berkorespondensi dengan setidaknya empat orang berbeda. Kedua e-mail ini berisikan penawaran kesempatan untuk memperoleh kiriman uang sekian juta Dollar AS, modus yang cukup lazim, terlampau mengada-ada, dan penuh dengan kesalahan gramatikal dalam penulisannya. Namun, sebagaimana yang Veitch pernah katakan, justru karena sejatinya e-mail semacam ini ditujukan kepada orang yang terlampau bodoh, isinya menjadi terlampau bodoh juga untuk memastikan bahwa orang yang agak pintar tidak berpartisipasi di sini.


Oh iya, biar ku beritahu sedikit bagaimana lazimnya modus mereka ini dilakukan. Mereka akan memulai dengan latar belakang cerita yang agak menyedihkan, seperti misalnya cerita tentang klien mereka yang meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan tabungan di bank dalam jumlah besar yang ingin mereka transfer ke orang yang bersedia menerimanya. Mereka kemudian akan meminta data diri kita berikut foto tanda pengenal seperti paspor. Saranku saja, walaupun orang-orang pasti sudah tahu, jangan pernah berikan data yang asli. Aku sendiri mengirimkan data diri sebagai warga negara Papua Nugini yang saat ini tinggal di Iran dan bekerja sebagai pengujicoba jamban serta staf diplomat. Apakah mereka sadar bahwa data ini palsu? Ternyata tidak juga. Jadi sepertinya dapat ku katakan bahwa orang-orang semacam ini adalah sekumpulan idiot yang kerjanya menipu orang-orang yang tidak kalah idiotnya.


Klimaks dari drama ini adalah ketika mereka meminta kiriman uang melalui Western Union yang akan digunakan sebagai biaya administrasi untuk memperoleh sejumlah berkas tertentu sebelum uang dapat dikirimkan. Saat itulah aku tahu drama harus diakhiri dan kebodohan mereka harus ku demonstrasikan agar mereka sadar berapa banyak waktu dan usaha yang terbuang percuma karenaku. Jadi jika dihitung, dari awal mereka mengirim e-mail, negosiasi yang ku lakukan mengenai nominal uang yang akan ku terima, hingga pembongkaran kedok mereka, aku telah menghabiskan 14 – 21 hari mereka alias hampir sebulan dengan intensitas e-mail sekali dalam sehari.


Pasca korespondensi, biasanya aku akan merenungi kembali percakapan yang telah terjadi dan mencoba mencari penjelasan yang mungkin bagi perilaku jahat semacam ini yang ku tahu bertebaran dalam jumlah besar di dunia maya. Mengapa ada orang-orang yang berpandangan bahwa menipu dan memeras orang asing melalui dunia maya adalah sesuatu yang lumrah untuk dikerjakan? Dan, tidak kalah penting, mengapa beberapa di antara mereka juga memiliki masalah intelegensi yang mengkhawatirkan, terutama dari segi gramatikal dan modus operandi?


Penelusuranku berlanjut dengan riset kecil yang ku lakukan di dunia maya. Selain ingin mengetahui dari negara mana saja orang-orang seperti ini berasal, aku juga ingin mengetahui apa yang khas dari para penipu di masing-masing negara tersebut. Beberapa sumber menyatakan India, China, Nigeria, Pakistan, dan bahkan Indonesia sebagai negara penghasil penipu daring yang cukup dominan.


Lalu apa saja modus lazimnya? Pengalamanku dengan penipu dari Benua Afrika serta pengalaman beberapa orang lainnya menunjukkan bahwa modus mereka biasanya adalah dengan pura-pura menjadi bankir atau pengacara yang berupaya memindahkan uang kliennya. Pengalaman beberapa orang lain dengan penipu dari India, misalnya, menunjukkan modus lazim berupa pura-pura menjadi techsupport dari perusahaan seperti Microsoft, Apple, maupun Google yang menawarkan refund kendati sebetulnya yang mereka lakukan adalah mencuri informasi rekening bank orang-orang untuk dikuras isinya.


Namun data kecil ini belum menjawab pertanyaan besarku tentang alasan mereka melakukan hal semacam ini. Tentu, yang dituju adalah uang. Namun bagaimana mereka memandang kegiatan kriminal ini sebagai bagian dari hidup mereka? Mereka dibenci, bukan hanya oleh orang asing di luar negeri, melainkan juga oleh saudara sebangsanya. Akan tetapi mereka tetap pada kegiatan ini. Jika ini seperti cerita dua orang biksu Zen Budhisme di awal, apa yang sebetulnya mereka bawa di dalam pikiran mereka? Tentu tidak sesederhana menyangkut uang karena menurutku uang hanyalah perantara bagi mereka untuk memperoleh apa yang sebetulnya menggelayuti pikiran mereka dan membuat mereka terikat dengannya.


Jawaban ini akhirnya mulai ku temukan sebagian pada dua channel YouTube yang tidak sengaja ku temukan, yakni ScammerRevolt dan Kitboga (ku sarankan kalian menonton kedua channel ini juga agar lebih memahami apa yang ku maksud di sini). Keduanya adalah channel yang mengekspose para scammer dari India yang bekerja sebagai techsupport palsu dengan cara merekam pembicaraan telfon mereka. Setelah beberapa malam ku habiskan dengan menonton video mereka, ku temukan jawabannya di tengah salah satu bagian saat mereka saling melempar makian dalam bahasa lokal India dengan para penipu ini.


Para penipu ini bukan saja tidak merasa sedang melakukan tindak kriminal, mereka juga bangga dengan apa yang mereka sebut sebagai “pekerjaan yang menghasilkan uang banyak” ini. Terlepas dari apakah mereka betul-betul menghasilkan nominal fantastis yang mereka klaim setiap harinya, bagi kita yang akrab dengan dunia professional dan memiliki latar belakang pendidikan yang memiliki konten moral yang memadai, rasanya tidak sulit untuk membedakan mana profesi dan mana yang bukan. Namun bagi para penipu ini, batasan ini dileburkan ketika yang menjadi tolak-ukur adalah jumlah uang yang dihasilkan. Yang membuatku lebih terheran-heran, pada salah satu bagian dari video tersebut, si penipu membanggakan dirinya sebagai warga negara yang hidup dari “jerih payahnya” sendiri dan menghina mereka yang hidup dari uang jaminan sosial pemerintah. Si penipu juga membanggakan betapa banyak mobil dan apartemen yang dimilikinya berkat “profesi” yang digelutinya ini.


Merenungi pengalaman baru semacam ini selama sebulan terakhir, aku jadi teringat dengan apa yang pernah diungkapkan beberapa pemikir masa lalu. Masing-masing dari kita secara tidak sadar didorong oleh setidaknya dua hal. Pertama, pikiran “keakuan” yang memandang diri sendiri spesial dibanding orang lain dan berhak mendapat anugerah lebih dari hidup. Kedua, penyimpulan tergesa-gesa yang memandang bahwa keberhasilan pada suatu hal adalah lebih baik dibanding kegagalan. Bergabung, keduanya menghasilkan orang-orang yang pikirannya selalu membawa beban penekanan pada diri masing-masing bahwa mereka spesial dan ditakdirkan untuk mencapai kesuksesan, kendati pada akhirnya harus melalui cara apapun.


Padahal, ketika berbicara secara statistik, apa yang khas ternyata umum dimiliki orang lain dan apa yang dipandang sebagai berhasil dan gagal adalah dua hal yang relatif dan oleh karenanya tidak memiliki acuan pasti. Dari sinilah aku kemudian memahami “hantu” apa yang menggelayuti pikiran mereka, para penipu ini. Ia adalah ekspektasi yang tidak diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menggapainya. Mereka memandangi orang-orang yang lebih kaya, mengira bahwa orang-orang kaya ini juga membawa pikiran yang sama mengenai kekayaan dan kesuksesan sebagaimana mereka, dan kemudian mengambil jalan yang mereka kira tepat.


Yang tidak mereka sadari, orang-orang kaya ini, seperti halnya biksu yang menggendong wanita yang hendak menyeberangi sungai di awal cerita, telah meletakkan ambisi buta tentang kekayaan di belakang mereka dan berjalan tanpa beban menuju tujuan yang lebih besar. Akhirnya para penipu ini, sebagaimana biksu satunya, memandang dirinya sendiri benar dan merendahkan orang lain yang tidak berada pada posisi seperti dirinya. Aku tak tahu bagaimana situasinya di tempat lain, oleh karena itu kesimpulan ini pun masih jauh dari kata tuntas. Aku yakin temuan lainnya akan memperkaya kesimpulan ini di masa depan. Untuk sementara, sebaiknya tulisan ini ku akhiri sebelum membuat jemu pembacanya…

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu

Kopi Idealitas