Dan Ku Temukan Tujuan dari Ketiadaan Tujuan


Ada yang merenta namun bukan badan. Ada yang menghela nafas panjang namun bukan dada. Ada yang terpejam lelah namun bukan mata. Ada yang mengalir di pipi namun bukan air mata. Langit malam memanglah hitam pekat, dan udaranya memanglah dingin menusuk tulang. Fase berikutnya dari perjalanan panjang, namun kepada siapa selanjutnya aku memamerkannya?


Untuk berdiri dan terus berjalan, bahkan ketika tebing curam nan licin terbentang di depan, ku curahkan seluruh asa yang tersisa. Di belakang, tak ada lagi yang terlihat maupun terdengar. Hanya ada semilir aroma nostalgia yang semakin memudar. Aku khawatir sebentar lagi bahkan aroma ini pun akan hilang sepenuhnya dari peredaran. Lapar dan haus, anehnya aku semakin terpacu karena keduanya.


Perjalanan baru ini bernama kedewasaan. Suatu pagi aku terbangun dan sejak saat itu aku tak tahu aku bangun untuk siapa dan mengapa. Aku terus membaca, belajar, menguji diri, dan mengerjakan banyak hal baru seperti biasanya dulu. Tapi tak ada lagi nilai A, pujian, tepukan tangan, ungkapan kagum, dan sorak-sorai dari luar ruanganku. Tidak dari para guruku yang beberapa telah pergi mendahuluiku, tidak dari para penyimak yang jauh lebih tua dan tersohor ketimbang aku, tidak dari sejawat yang tertinggal oleh aku yang berjalan terlalu tergesa-gesa, dan bahkan tidak darimu yang sudah terlalu sibuk dengan masalahmu sendiri.


Untuk sejenak, aku mencoba mengais sisa-sisa kenangan itu, namun sunyi-senyap yang ku dapat. Aku seperti seorang pecandu berat yang merindukan stimulan-stimulan semacam itu. Tubuhku berusia dua puluh, namun di dalamnya terperangkap jiwa yang salah. Jiwa renta berusia tujuh puluh ini adalah jiwa yang penuh dengan ilusi dan senantiasa menginginkan yang sepele dengan mengorbankan yang terpenting dari hidup.


Tiba-tiba saja aku tersandung sebuah gundukan tak kasar mata yang tersamar minimnya penerangan malam. Aku terjatuh, wajahku mendarat persis ke dalam kubangan lumpur. Dapat ku rasakan darah mengucur dari dahi yang tergores kerikil tajam yang tersembunyi di dalam kubangan tersebut. Duh, aku terlalu asyik melamun.


Sampai di mana aku sekarang? Ada terdengar percikan air di depan sana. Apakah aku sedang berada di dekat sungai? Ah, betul ternyata. Tak ada salahnya mencuci kotoran yang menempel ini dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Tapi tunggu, aku tidak melihat jalan lain dari sini. Hanya ada dataran rumput di seberang sana. Apakah artinya aku harus menyeberang? Sepertinya begitu. Ku lihat ada rakit bambu tertambat pada pasak kayu di pinggir sungai, lengkap dengan tali yang terhubung dari satu sisi ke sisi lainnya dari sungai sebagai tempat berpegangan.


Pada pijakan pertamaku di atas rakit ini, ku rasakan udara sekeliling menghangat. Pijakan kedua, dan nyerinya luka di dahi sirna. Pijakan ketiga, dan ku rasakan debaran jantung melambat. Pijakan keempat, dan rakitku ini perlahan terdorong ke depan. Kedua tanganku menggenggam erat tali di atas kepalaku silih berganti. Dalam setiap tarikan ku rasakan aku semakin dekat dengan ujung sungai satunya. Semua sensasi tadi semakin terasa kuat pengaruhnya.


Dan kini, samar-samar ku lihat seberkas cahaya kuning menyeruak dari balik deretan pepohonan di depan sana. Fajar sepertinya sebentar lagi menjelang. Mulai terdengar suara kicauan burung di sekitarku yang berpadu dengan sapuan air sungai. Bau apa ini? Aromanya semanis buah manggis kesukaanku. Apakah ada kebun buah sekitar sini? Tapi wewangian ini terasa seperti datang dari seluruh penjuru, bukan hanya dari satu arah. Semuanya sama kuatnya di hidung dan aku tak mampu membedakannya.


Rakitku telah sampai di seberang sungai. Aku melompat turun dan menarik satu nafas panjang kemudian menghembuskannya kuat-kuat sebelum melangkah kembali. Ku angkat lengan kananku tinggi-tinggi dan melambaikannya ke kiri dan kanan beberapa kali dengan tangan kiri ku masukkan ke dalam saku celanaku. Senyum merekah, aku tak dapat menjelaskannya dengan gamblang juga. Yang ku tahu, detik berikutnya aku berujar setengah berteriak,


“Terima kasih ya untuk rakitnya!”


Semoga siapapun sosok di seberang sana mampu menemukan apa yang dicarinya di belakang
, gumam kalbuku. Perjalananku kembali berlanjut, kali ini dengan pikiran yang lebih jernih dan jiwa yang berapi-api.

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu

Kopi Idealitas

Korespondensi dengan Orang Asing Bagian 1: Apa yang dibawa Seorang Penipu?