"Kurangi Kopi, Perbanyak Teh"
Sakit kepala membuatku terjaga semalaman. Karantina akibat pandemi berakibat pada berantakannya waktu tidurku belakangan. Sering sekali aku terjaga hingga pagi menjelang hanya karena terlalu asyik dengan permainan dan tontotan baruku di handphone. Dan untuk menjaga agar diri ini tetap melek sepanjang malam, ramuan apa lagi yang lebih manjur ketimbang tiga gelas kopi panas? Karena kopi aku bisa tetap melek, dan persis karena kopi pula aku sekarang sakit kepala jika asupan kopi harianku kurang (sepertinya).
Belakangan
banyak yang terjadi pada diriku selama masa pandemi. Dimulai dari beberapa
pekerjaan sampingan yang hilang akibat pertemuan tatap muka yang menjadi
semakin sulit (seperti mengajar dan berkegiatan di kantor pengacara tempatku
bekerja paruh waktu) hingga beberapa lamaran kerja yang berakhir kurang
menyenangkan, rasa-rasanya pahit betul fase kehidupanku sekarang. Satu-satunya
hal positif dari bencana dunia ini bagiku adalah penghematan yang dapat ku
lakukan. Pengeluaran harianku berkurang hingga separuh dari jumlah biasanya. Ya
mungkin efeknya jadi tidak terlalu terasa juga karena pemasukanku sendiri juga
berkurang separuh.
Di
luar itu, aku juga mengalami krisis masa muda seperti halnya orang-orang yang
baru lulus kuliah. Setiap hari pikiran yang kosong ini merengek dan memaksaku
terlibat dalam pertanyaan-pertanyaan filosofis kehidupan yang ku kira sudah ku
tinggalkan bersamaan dengan kelulusanku dua bulan lalu. Tidak kalah pelik,
beberapa orang menyebalkan mulai mencari masalah denganku dan sepertinya akan
membuatku sibuk berperkara hukum dalam beberapa bulan ke depan. Oh dunia…
Malam
ini, di tengah sakit kepala yang semakin merongrong, ku coba tuangkan apa yang
ku pikirkan agar kepala beserta otak di dalamnya ini lelah dan akhirnya
menyerah. Dengan segelas teh hangat di sebelahku, ku harap diri ini beserta
seluruh bagian fisik dan mentalnya mampu lebih mudah menemukan kedamaian di
tengah riuh suasana zaman. Harus ku akui, dinamika hidup saat ini hampir membuatku
gila. Aku dapat tertawa lepas beberapa kali dalam sehari dan juga meringkuk
frustasi beberapa kali di hari yang sama saat apa yang tidak ingin ku ketahui
justru menggedor pintu kamarku keras-keras. Antara proses pendewasaan atau
penyiksaan, aku tak tahu lagi mana yang betul.
Tehku
habis. Untungnya teh lebih mudah untuk diseduh ulang tanpa mengganti kantungnya
dengan yang baru, tidak seperti kopi bubuk. Masih nikmat untuk sekali seduhan
lagi. Ku tuangkan air panas yang baru ku masak dari teko ke dalam gelas.
Pikiran iseng mendorongku untuk tidak langsung mengaduk-aduk kantung teh. Ku
biarkan rona merah menyebar dari dalamnya ke seluruh sudut air di dalam gelas
sembari juga ku tunggu agar airnya sedikit mendingin. Tak butuh waktu lama.
Seperti dugaanku, kantung ini memang masih bagus untuk sekali seduhan lagi.
Hanya teh panas, tanpa gula.
Sampai
mana pikiran filosofisku melayang? Ah sudah lupa. Mungkin sudah menguap bersama
dengan uap air dari dalam gelas. Biarlah, tak usah dikejar. Nanti juga dia akan
datang kembali untuk mengajakku bermain. Omong-omong, aku sepertinya baru
menyadari bahwa cara hidupku selama ini selalu berada di antara dua kutub
berbeda yang direpresentasikan oleh kopi dan teh. Penyadaran ini datang
tiba-tiba saja sekarang dan membuatku ingin menuliskannya di sini. Semoga tidak
seperti pikiran sebelumnya yang mendadak melayang bersama uap (toh tehku sudah
sedikit lebih dingin sekarang).
Untuk
kebanyakan waktu, ku rasa hidup ini ku jalani sebagaimana biasa aku menjalani
rutinitas minum kopi. Pagi ku mulai dengan mengambil cangkir dan sendok dari
rak cuci (dan kadang keduanya masih basah karena baru dicuci) dan lebih
seringnya aku langsung melakukan ini tanpa terlebih dahulu menggosok gigi atau mencuci
muka. Kedua kaki selanjutnya membawaku menuju dapur dan tangan kemudian
menyendok kopi dan gula masing-masing sebanyak satu sendok makan ke dalam gelas
sebelum akhirnya air panas ku tuang hingga penuh dan cangkir ku aduk berirama
dengan sendok selama sepuluh detik. Rutinitas ini terjadi dalam waktu tak
sampai dua menit dan bahkan kadang-kadang dalam waktu yang sama kopi itu dapat
langsung ku habiskan jika sedang terburu-buru.
Aku
sadar bahwa cara menyeduh kopi semacam itu membuat kopi yang ku minum menjadi
berkurang nikmat dan tidak berkhasiat sama sekali untuk melawan kantuk. Kata
orang, kopi perlu dibiarkan sejenak agar aromanya betul-betul dapat dikeluarkan
oleh panasnya air. Tangan usilku selalu saja melakukan kebiasaan buruk dengan
langsung mengaduk isi cangkir sesaat setelah air panas ku tuang. Mungkin karena
lidahku juga tak dapat membedakan antara rasa kopi yang didiamkan dulu dengan
yang langsung diaduk. Toh antara
sekian jenis kopi saja aku tak mampu membedakan rasanya, mau itu kopi mahal di
kafe maupun kopi instan dari warung. Yang dapat ku bedakan selama ini hanya
teksturnya, mana kopi yang ampasnya kasar dan ringan, mana yang halus dan mudah
mengendap.
Lucunya,
caraku menangani masalah hidup yang datang silih berganti juga mirip seperti
bagaimana aku menyeduh dan meminum kopi setiap hari. Kebanyakan waktu, aku
tergesa-gesa dalam menanggapi sesuatu. Aku lebih sering bertindak spontan
karena di dalam pikiranku, menyelesaikan masalah seolah-olah mirip dengan
meminum kopi secepatnya sebelum panasnya hilang dari gelas dan tanpa
membiarkannya sejenak setelah diseduh. Hasilnya, sama seperti rasa kantuk yang
tak dapat dihilangkan dan lidah yang mungkin malah dibuat melepuh, satu masalah
malah beranak-pinak dan memunculkan setengah lusin masalah baru yang bodohnya
terus ku tangani dengan metode kerja idiot ini.
Kau
tahu? Terkadang jika ku pikirkan, beberapa masalah hidupku di masa lalu akan
berakhir begitu saja jika aku mau bersabar sedikit dan menanganinya persis
seperti bagaimana malam ini aku menunggu kantung teh di dalam gelasku
memancarkan rona merah sempurnanya ke seluruh penjuru gelas. Sayangnya, selain
dikarenakan fakta bahwa aku perlu mengulang kesalahan beberapa kali agar dapat
mengerti pelajaran di baliknya, situasi nyata kehidupan tidak pernah
memberitahu kita apakah kita sebaiknya menunggu atau langsung bertindak
terhadap masalah yang datang. Atau dengan kata lain, menggunakan analogi yang
ku bangun susah payah di sini, hidup tidak pernah memberitahu kita apakah suatu
masalah tertentu sebaiknya didiamkan seperti teh yang sedang diseduh atau
seperti kopi yang perlu diaduk dan diminum segera.
Pengalaman,
entah yang berasal dari orang lain maupun diri sendiri, adalah sumber
pembelajaran utama bagi siapapun yang ingin mempertajam kebijaksanaan kecil
ini. Keterbatasan di masa lalu membuatku belajar melalui bentuk pengalaman yang
kedua. Apakah sekarang aku sudah sempurna dan jauh lebih bijak dalam menghadapi
masalah? Sepertinya tidak juga. Kebiasaan cerdas semacam ini butuh pengulangan
secara disiplin sebelum menjadi kebijaksanaan praktis yang terpatri di alam
bawah sadar seseorang, termasuk diriku. Bahkan sampai hari ini, aku masih hidup
untuk kebanyakan waktu seperti halnya kebiasaanku menyeduh kopi di pagi hari
dan sepertinya masih akan terus menyesali beberapa hal bodoh nantinya.
Kebijaksanaan
hidup layaknya bagaimana aku menyeduh teh malam ini, memikirkannya saja sudah
membuatku menyesali segudang kebodohan yang ku lakukan di masa lalu.
Teman-teman yang pergi, kesempatan yang terlewatkan, waktu-waktu yang terbuang
percuma, sumber daya yang teralokasikan dengan buruk, dan sebagainya. Mengingat
kembali hal-hal ini kadang membuatku juga ragu terhadap pujian yang selama ini
orang-orang lontarkan mengenai kecerdasanku. Apakah sebenarnya aku adalah yang
paling bodoh di antara orang-orang ini? Ataukah sebetulnya “bijak” adalah
tataran selanjutnya yang belum berhasil ku gapai dari posisiku saat ini sebagai
yang hanya sekedar “cerdas”?
Akan
tetapi, sebagaimana selalu ada gelas kopi atau teh selanjutnya, ku yakin
siapapun perlahan akan berubah, dimulai dengan proses memupuk kesadaran
sederhana semacam ini. Untuk itu, mau tidak mau setiap orang harus berkeras
pada dirinya sendiri dan mempraktikkan kesabaran ala penyeduh teh dalam rangka
membentuk dirinya menjadi demikian. Terdengar aneh, namun kenyataannya
kebijaksanaan lebih sering datang dari praktik dan kebiasaan yang dijiwai
hingga ia tertanam kuat di dasar sanubari. Mungkin aku pun perlu pelan-pelan
mengganti minuman rutinku menjadi teh tawar panas mulai dari sekarang. Bukan hanya
karena alasan kesehatan jasmani, melainkan juga rohani. Ah lihat sudah jam
berapa sekarang? Sudah saatnya tidur dan menutup hari. Pagi nanti masih banyak
pekerjaan yang perlu ku bereskan, tentunya dengan lebih bijak dalam
eksekusinya. Semoga saja.
Comments
Post a Comment