Catatan Penutup Kuliah dan Gelas Kopi Kosong
Ini adalah catatan penutup kuliahku. Di sinilah aku, di garis finis yang aku idam-idamkan selama bertahun-tahun lamanya. Tapi di sini jugalah aku, memandang langit kelabu sepanjang mata memandang, merasa kosong dan hampa seorang diri kendati ribuan mata mungkin sesekali memandangiku seorang. Hujan deras mengguyur tempat persinggahanku, namun ku lihat burung-burung sesekali beterbangan, sepertinya sedang berjuang mencari tempat berteduh. Apa daya? Pepohonan kini berganti dengan deretan villa a la pegunungan. Pun demikian halnya dengan hamparan perkebunan teh, pematang sawah, hingga kebun pisang. Semua berganti dengan hasil tangan kita, manusia, yang mencoba untuk menggapai ketinggian yang lebih tinggi dan kejayaan yang lebih jaya.
Apa
yang coba aku raih dengan sepasang tangan ini? Ku coba memahami apa arti
suratan takdirku, namun semakin keras aku mencoba, semakin gelap dan kabur
pemandangan di depan mataku. Aku seperti burung-burung di atas sana,
sayap-sayapku mulai berat kendati mungkin aku masih muda. Aku mulai lelah
mencari tempat peristirahatan di tempat yang salah. Aku mendapatkan banyak
memang dari masa-masaku melawan kencangnya angin pegunungan. Aku menjadi burung
tangguh memang, tapi apa gunanya? Toh pada akhirnya hanya aku seorang yang
terbang di atas sini. Teman-temanku? Kekasihku? Sanak keluargaku? Tak ku lihat
sepanjang cakrawala.
Sekeras-kerasnya
aku berimajinasi, pada akhirnya kenyataan membawaku pulang ke dunia fana. Aku
bukanlah seekor burung yang umurnya pendek dan nasibnya begitu-begitu saja,
hanya sebatas mencari makan, berkembang biak, belajar terbang, dan mati. Aku
masih percaya bahwa aku merupakan angin perubahan yang dunia nantikan, betapa pun
egois dan naifnya pikiran ini untuk orang seusiaku. Hanya saja untuk sekarang,
mungkin jalan ke arah sana masih tertutupi kabut, persis seperti pemandangan
gunung di hadapanku ini.
Ku
pandangi orang-orang di belakang yang sedang sibuk bercengkrama satu sama lain
di dalam ruangan yang penuh sesak. Udara pegunungan yang dingin membuat berada
di dalam ruang sempit malah menjadi suatu anugerah ketimbang derita. Ah mereka,
sebagian pernah terasa begitu dekat dan sebagian lainnya pernah terasa begitu
jauh. Tidak ada yang kekal, bahkan ikatan emosional pun dapat berubah dengan
cepat dimakan waktu dan keadaan. Andai mereka tahu betapa rindunya aku terhadap
sebagian di antara mereka serta betapa muaknya aku terhadap sebagian lainnya.
Tapi kini hanya ada tawa palsu atau ekspresi datar yang mampu ku lemparkan
kepada mereka tanpa dapat betul-betul menikmati dan menghargai adanya ikatan
emosional sebagai manusia. Nampaknya aku terlalu cepat pesimis terhadap
kehidupan.
Sementara
itu, gelas kopiku yang keempat sudah kembali kosong. Tanpa sadar aku terus
menyesapnya di sela-sela kegiatan menulisku ini. Keadaan ini memaksaku untuk
kembali berjalan melintasi ruangan tempat mereka berada. Hanya ada wajah-wajah
acuh tak acuh ketika aku pergi ke dapur dan kemudian beberapa tatapan penuh
tanya memandangi gelasku sekembalinya aku dari dapur. Heran ya memandangi
seseorang yang sedang menantang maut begini? Yah, toh aku tak pernah terkena
maag atau serangan jantung selama ini dari kegiatan mengopi yang sudah kelewat
batas ini, jadi wajar aku cenderung masa bodo dengan jumlah gelas kopi yang
sudah ku minum.
Aku
duduk kembali di teras villa, kali ini dengan segelas penuh kopi yang
belum-belum sudah tidak panas lagi karena udara pegunungan di sini. Menatap
catatan kuliah terakhirku ini membuat dadaku terasa sesak. Letih yang tak
terbayangkan membangun cerita yang indah bersama beberapa di antara mereka,
namun di akhirnya aku kembali sendiri, sama seperti pada saat pertama aku
datang. Aku menyesal dan marah, namun bukan kepada mereka. Aku tahu ini
salahku. Aku yang terlalu bodoh dalam memberikan apa yang aku punya kepada
orang lain. Kepada mereka yang ku kira akan tetap ada untuk berbagi suka dan
duka sebagai sahabat, kepada mereka yang ku kira akan tetap sabar memilikiku
yang penuh dengan masalah, serta kepada mereka yang ku kira turut mengerti
rasanya berjalan sendiri dalam keputusasaan.
Apa
yang abadi hanyalah pikiran dan perasaanku yang terus ada untuk mengiringi
perjalananku kemarin, hari ini, esok, dan selamanya. Andai suatu hari mataku
menemukan kembali setitik cahaya harapan setelah lama aku berada di dasar
ngarai terdalam dari hidupku ini, aku bersumpah akan berlari jauh dan meninggalkan
semua yang meninggalkan sekarang. Aku akan berlari hingga sayap-sayapku tumbuh
dan mengepak dengan mantap.
Akan
tetapi pada akhirnya, aku tidak akan dapat berlari dan terbang lebih cepat
daripada bayanganku sendiri. Yang dapat ku harapkan dari pelarian ini adalah
bahwa suatu saat nanti, ketika aku dan mereka kembali dipertemukan nun jauh di
atas sana, aku dapat dengan mantap mengatakan bahwa aku bersyukur mampu berlari
dan terbang lebih jauh dari mereka yang sudah terlebih dahulu berhenti ketika
jarak di antara kami hanya semakin melebar saja hari demi hari di masa lalu.
Aku tak ingin matiku yang tertunda menjadi tidak ada artinya dibanding mati
mereka yang telah terjadi lebih dulu.
Comments
Post a Comment