Keluh dan Dilema


Ku angkat cangkir seraya bersenandung lirih

Akankah hidup yang hanya sekali ini terasa panjang dan sepi?

Ataukah pendek dan riuh bak mimpi indah di malam hari?


Hidup seorang manusia layaknya embun di pagi hari

Yang berlalu sayangnya tak terganti

Sedang yang akan datang entah tinggal berapa lama lagi

 

Setiap jiwa sepantasnya mampu untuk bergembira

Namun bagaimana aku dapat mencapainya?

Sedang kenangan tentang kasihmu telah meninggalkan jejak yang tak mungkin terlupa

 

Tiada yang dapat memudarkannya walau sekejap, kecuali setumpuk candu di pelupuk mata

Teruntukmu yang pernah menjadi kepingan penting di dalam dada

Hadirmu dan jaket biru mudamu masih terus menghantui ruang lara

 

Dan di dalam seluruh untaian puisi ini senantiasa bersemayam gelora asmara

Tak kunjung padam dan senantiasa membara

Dalam diam dan juga ungkapan kata yang terlontar

 

Seorang pria tua termenung murung di pusara seberang jalan

Memandangi sepetak kecil lahan tempat kekasihnya kini bersemayam

Sobat datang dan pergi layaknya musim yang berganti atau aliran sungai yang tak lagi sama

 

Hidup rasanya seperti suatu pesta-pora di pagi hari

Yang diteruskan oleh pemakaman di malam hari

Rembulan menampakkan purnama sebulan sekali, namun sekalipun tak pernah dapat kuraih

 

Selayaknya mata yang tak henti-hentinya memandangi rembulan itu

Demikian pula benakku yang tak kunjung mampu membuyarkan bayangmu

Ia akan selalu terjebak buaian nostalgia yang semakin menyesakkan hari-hariku

 

Pernah ada kalanya ketika kau rela berkorban untuk memberi ruang tenang penuh bahagia

Menelusuri larut malam, kita berkisah dan bercanda

Berbagi guyonan di sela jamuan, hingga ku tak ingin waktu beranjak sudah

 

Pertemuan selanjutnya senantiasa ku nanti, walau ku tahu ini mungkin berarti selamanya

Jika bukan ketika bernyawa, ku harap tanah yang bercampur kan mempertemukan kita

Di kala kemudian, tak peduli sejauh apa kedua pusara memisahkan kita

 

Selayaknya terang bulan yang mengalahkan kelip bintang

Rinduku padamu jauh lebih besar dari goresan luka yang kau tuang

Karena tanpamu, mustahil dapat ku temukan peristirahatan di tengah dunia yang rumpang

 

Gunung tak pernah membenci ketinggiannya

Demikian juga dengan laut yang tak pernah membenci kedalamannya

Oleh karenanya, ku ingin perih ini tetap terjaga dari benci dan ketidaksabaran jiwa

 

Hingga suatu saat nanti, ketika waktu telah memberi jawaban atas pengharapan ini

Untuk bertahan atau pergi

Untuk hidup atau mati

 

Ku harapkan selalu yang terindah

Untukmu, dan untuk kita

Selamanya…

Comments

Popular posts from this blog

Catatan Seorang Pengajar Paruh Waktu

Kopi Idealitas

Korespondensi dengan Orang Asing Bagian 1: Apa yang dibawa Seorang Penipu?